Kamis, 31 Oktober 2019

Poin-poin Isu Jurnalistik




Kenapa sebuah momen perlu dilansir? Kejadian apa saja yang cocok atau sesuai jadi informasi? Isu apa yang menyebabkan sebuah momen sesuai jadi informasi? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan inilah yang disebut poin informasi.



Kita tahu, semua sesuatu pasti mempunyai poin. Jikalau sesuatu tidak bernilai, karenanya dia disebut sampah. Melainkan, sampah sekalipun dikala ini telah dapat dimanfaatkan atau diolah menjadi poin-poin baru. Pupuk kompos, umpamanya, justru menerima poin terbaiknya dari ketersediaan sampah.

Demikian halnya informasi. Tak seluruh hal sesuai \\\'dikorankan\\\', \\\'ditelevisikan\\\', \\\'diradiokan\\\' atau \\\'dionlinekan\\\' jadi informasi. Memang, susah menemukan defenisi yang baku soal poin informasi, karena banyak elemen yang menentukannya. Ada elemen budaya, keadaan sosial, tingkat pengajaran  masyarakat, kedekatan, jangkauan, dan lain-lain. Malahan, subjektifitas juga betul-betul berakibat pada poin sebuah informasi.




Contohnya, seorang buah hati jatuh dari sepeda sebab bersenggolan dengan sepedamotor. Buah hal yang demikian mengalami luka ringan dan dilarikan ke puskesmas. Momen ini mungkin tak penting (tak bernilai informasi) bagi orang lain, melainkan bagi warga di sekitar daerah tinggal si buah hati (tetangga), momen ini betul-betul bernilai sebab elemen kedekatan dan emosionil. Mereka pasti penasaran, mengapa momen itu terjadi, bagaimana situasi si buah hati, siapa pengendara sepedamotor dan bagaimana tanggungjawabnya? Apakah ia lari atau ikut membawa si buah hati ke puskesmas?

Model lain, penggila sepakbola akan menganggap informasi bola sebagai informasi betul-betul penting (bernilai), melainkan dapat saja tidak punya arti bagi penambang pasir. Isu ekonomi tidak penting bagi nelayan, melainkan betul-betul bernilai bagi bagi pengusaha. Poin informasi inilah kemudian yang mendasari munculnya rubrikasi di sebuah media, supaya bisa menjangkau segmen pembaca atau audiens yang lebih luas dan bermacam-macam pantas standar poin masing-masing.

Tetapi demikian, terdapat poin-poin universal yang dapat menyatukan standar-standar subjektif. Model, kenaikan harga BBM akan berakibat bagi kehidupan tiap-tiap orang, sehingga dia mempunyai poin tinggi sebagai informasi. Nyawa seorang buah hati balita, umpamanya, juga akan meraba perasaan tiap-tiap orang dimana malahan berada, karena itu dia mempunyai poin informasi tinggi.




Ini sekalian menjadi jawaban atas sebagian pertanyaan, kenapa sesekali ada informasi tidak penting diterbitkan di suratkabar? Jikalau dicermati, informasi itu hakekatnya konsisten penting, melainkan mungkin untuk segmen pembaca yang lain. Berikut diringkaskan poin-poin informasi, tentu saja menurut perspektif jurnalistik.

1. DAYA TARIK (Magnitude)

Seberapa luas akibat suatu momen bagi masyarakat. Berapa banyak orang yang terimbas pengaruh momen itu?  Model, kenaikan harga BBM lebih luas imbasnya bagi masyarakat daripada informasi perihal kecelakaan bis di Malaysia. Oleh karena itulah kenapa informasi kenaikan harga BBM senantiasa menjadi topik utama di media.

2. KEDEKATAN (Proximity)
Sebuah momen mempunyai poin penting jika dekat dengan khalayak pembaca, seperti telah diceritakan diatas. Momen kebakaran pasar, umpamanya, dapat menjadi informasi heboh di lokasi kejadian, melainkan bagi warga kota lain, informasi itu tidak terlalu bernilai.

3. AKTUALITAS (Actuality)

Aktualitas atau jarak waktu betul-betul penting bagi poin sebuah informasi. Apakah kejadiannya baru? Masih hangat? Isu yang telat atau tak aktual dengan sendirinya akan kehilangan poin, terutama di era komputerisasi dikala ini dimana media-media online saling berpacu dengan waktu.

4. KETOKOHAN

Jikalau seorang guru menghardik murid sebab bandel, mungkin bukan informasi. Namun jikalau seorang Gubernur menghardik pelajar, itu akan jadi informasi besar. Atau, jikalau tukang ojek tubrukan dengan tukang ojek lain, itu dianggap awam. Namun jikalau seorang pejabat atau seniman tubrukan dengan tukang ojek, pasti jadi informasi heboh. Di sini ketokohan betul-betul penting. Momen boleh awam, melainkan jikalau itu menyangkut nama atau tokoh besar, dia akan mempunyai poin informasi tinggi.

5. UNIK DAN BARU

Kita sering kali membaca di koran atau menonton di layar kaca perihal fenomena-fenomena unik. Gerhana Sang Sempurna sebagian waktu lalu, umpamanya, jadi pemberitaan heboh di segala dunia. Suatu dikala, ada pohon pisang berbuah nangka, kambing berkaki tiga, domba bersuara ayam, dan lain-lain. Teladan-hal unik dan baru seperti ini senantiasa menjadi perhatian orang banyak sehingga mempunyai poin informasi tinggi.

6. KONFLIK (DRAMA)

Dalam informasi, juga terdapat perselisihan atau drama yang menyertainya. Aksi tembak-menembak antara terosris dengan pasukan Densus 88, umpamanya, ialah informasi baik sebab betul-betul dramatis. Model lain, seorang ibu kejar-kejaran dengan jambret, mempunyai poin dramatis yang menggugah dan menginspirasi.

7. INFORMATIF

Isu dapat betul-betul bernilai sebab bersifat informatif. Contohnya, cuaca buruk yang melanda suatu kawasan, akan betul-betul bernilai bagi para calon penumpang pesawat. Longsor di satu spot arus lalu-lintas, umpamanya, betul-betul penting dikenal pengendara atau masyarakat yang sedang bepergian melintasi wilayah itu.

8. EKSKLUSIF

Eksklusif berarti tak sama dengan lain, khusus, dan tersendiri. Contohnya, ada sebuah momen heboh di sebuah dusun. Tetapi banyak orang tahu momen hal yang demikian. Namun terbukti, seorang wartawan sukses mengendusnya. Isu terbitlah momen itu cuma di satu surat informasi. Nah, tentu saja informasi ini betul-betul bernilai daripada informasi yang ramai-ramai disiarkan di beragam media. Liputan investigatif dan features, biasanya mempunyai poin eksklusif.

9. KECENDERUNGAN (Seumpama)

Seumpama berhubungan erat dengan perkembangan teknologi, gaya hidup, fashion, perilaku masyarakat, atau hal-hal lain yang sedang uptodate. Contohnya, informasi-informasi perihal lounching hp terkini akan betul-betul menarik bagi mereka cenderung gonta-ganti perangkat.

10. HUMAN INTEREST (Rasa Manusiawi)

Suatu momen dapat betul-betul bernilai jikalau cakap meraba perasaan kemanusiaan banyak orang. Penganiayaan TKI Indonesia di Malaysia, umpamanya, mengandung poin human interest tinggi.  hal yang memuat faktor human interest antaralain ketegangan, ketidaklaziman (umpamanya seorang ibu melahirkan bayi kembar 4), ketertarikan pribadi, simpati, dan lain-lain.

11. SEKSUALITAS

Banyak anggapan yang tak menceritakan seks sebagai sebuah poin dalam informasi jurnalistik. Tetapi faktanya, momen apa saja yang berkaitan dengan seksualitas, umumnya dieksplore sedemikian rupa oleh media massa. Kasus member DPR-Maria Eva, pencabulan buah hati di bawah usia, perselingkuhan para pejabat, prositusi seniman, sampai kehebohan terakhir: LGBT. Dengan demikian, seksualitas yaitu informasi bernilai tinggi. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar